Halaman

Kamis, 19 September 2013

Wisata Kintamani





Kintamani adalah salah satu objek wisata di Bali yang terkenal akan pemandangan pegunungan dan Danau Batur yang indah. Yang paling pavorit di sini adalah desa Penelokan kecamatan Kintamani, desa ini terletak di tepi Gunung Batur adalah tempat yang paling indah untuk melihat pemandangan Gunung Batur dan danaunya. Dari tempat ketiinngian melihat sensasi gunung Batur yang kadang-kadang mengeluarkan asap, karena tergolong masih aktif dan keindahanan danau bulan sabit yang berada di kaki gunung. 

Di sini terdapat Gunung berapi kecil, gunung ini masih aktif sampai letusan yang besar terjadi pada tahun 1917, dimana letusan tersebut telah mengambil ribuan nyawa dan menghancurkan ratusan rumah penduduk Desa Batur Tua yang berada di dasar kaldera Batur. Penduduk yang masih tersisa mengungsi ke Desa Batur, pura Ulun Danu yang berada di lembah gunung Batur, juga pindah ke Desa Batur yang sekarang, tapi sampai sekarang pura Ulun Danu batur yang ada di penolokan masih menjadi pusat kegiatan pemujaan penduduk setempat dan Bali.


Pesona alamnya yang indah yaitu pemandangan Danau Batur yang merupakan danau terbesar di kawasan pulau ini dan Gunung Batur salah satu Gunung berapi yang masih aktif, yang berdiri di tengah-tengah kaldera membuat daerah ini menjadi salah satu tujuan wisatawan paling favorit dan diminati di Bali. Jarak yang ditempuh ke kawasan ini kira-kira 2 jam perjalanan dari Denpasar atau Karangasem ataupun  Lovina. Jejeran restaurant sepanjang penelokan yang menawarkan keindahan alam lembah dan gunung, terbukti sangat diminati, sambil bersantai menikmati makan siang, pengunjung disuguhi panorama alam yang memukau. 


Di pinggiran Danau Batur, Kintamani terdapat sebuah desa dengan kehidupan masyarakat yang cukup unik, yaitu Desa Trunyan. Desa ini merupakan sebuah desa Bali Aga dan Bali Mula. Bali Aga adalah orang bali pegunungan dan bali Mula adalah orang bali asli.

Desa Trunyan terletak di sebelah timur bibir danau Batur, letak ini sangat terpencil. Jalan darat dari Penelokan, Kintamani, hanya sampai di desa Kedisan. Dari Kedisan ke desa Trunyan orang harus menyeberang danau Batur selama 45 menit dengan perahu bermotor atau 2 jam dengan perahu lesung yang digerakkan dengan dayung. Selain jalan air, Trunyan juga dapat dicapai lewat darat, lewat jalan setapak melalui desa Buahan dan Abang. 

Banyak wisatawan yang berkunjung ke desa Trunyan karena tertarik dengan adat pemakaman masyarakat yang unik. Adat pemakaman di Desa Trunyan tidak seperti masyarakat pada umumnya yaitu dikebumikan/dikubur. Terkait dengan kepercayaan orang Trunyan mengenai penyakit dan kematian, maka cara pemakaman orang Trunyan ada 2 macam yaitu:

  • Meletakkan jenazah diatas tanah dibawah udara terbuka yang disebut dengan istilah mepasah. Orang-orang yang dimakamkan dengan cara mepasah adalah mereka yang pada waktu matinya termasuk orang-orang yang telah berumah tangga, orang-orang yang masih bujangan dan anak kecil yang gigi susunya telah tanggal.
  • Dikubur / dikebumikan. Orang-orang yang dikebumikan setelah meninggal adalah mereka yang cacat tubuhnya, atau pada saat mati terdapat luka yang belum sembuh seperti misalnya terjadi pada tubuh penderita penyakit cacar, lepra dan lainnya. Orang-orang yang mati dengan tidak wajar seperti dibunuh atau bunuh diri juga dikubur. Anak-anak kecil yang gigi susunya belum tanggal juga dikubur saat meninggal.



Tidak ada komentar: